Hewan Langka Asli Indonesia ini Pasti Belum Pernah Kamu Lihat Secara Langsung

➢ Hewan khas dan langka sulawesi tengah

Sulawesi tengah memiliki hutan yang masih terjaga kelestarianya, baik itu Flora maupun Faunanya, ada banyak sekali Fauna yang terdapat di hutan Sulawesi Tengah, baik itu Fauna yang masih banyak ditemukan sampai Faunanya yang sangat sulit untuk dijumpai saat ini, atau bisa dibilang Hewan langka.

Berikut kami akan mengulas lengkap beberapa hewan langka dan khas sulawesi tengah yang wajib anda ketahui.

Pada tahun 2004 Seorang Naturalis Inggris A.R. Wallace mengeluarkan suatu pernyataan yang disebut garis Wallace yang membusur dari Bali dan Lombok menuju ke antara Kalimantan dan Sulawesi, sebelah selatan Philipina dan sebelah utara Hawaii yang menandai perbedaan Flora dan Fauna pada daratan yang terpisah ketika zaman es 47 juta tahun lalu.


Baca Juga:  4 Jenis Tanaman Penyerap Debu Yang Paling Banyak


Jawa, sumatera, Kalimantan, dan Bali yang dikenal sebagai Sunda Besar merupakan bagian paparan Sunda dan faunanya sama dengan fauna daratan Asia. Pulau-pulau di bagian timur Bali yang merupakan bagian daratan Australia merupakan bagian dari paparan Sahul yang meliputi kepulauan Aru, Irian dan Australia.

Sulawesi merupakan pulau terpisah dari kedua dataran tersebut, maka tak heran memiliki Flora dan Faunanya yang berbeda sendiri. Seperti hewan berikut ini:

➣ Anoa dataran rendah(bubalus depressicornis) 


Anoa jenis ini biasa disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip dengan kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira.sebesar kambing dewasa.

Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi Fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara dan sulawesi tengah ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa jenis pegunungan.

Anoa dataran rendah mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan ( Bubalus quarlesi ). Panjang tubuhnya sekitar 170cm dengan tinggi sekitar 90 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya sekitar 50 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg. Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 35 tahun yang matang secara
seksual pada umur 3-4 tahun.




Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 8 - 10bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi
dengan ketinggian 1500 MDPL. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat
satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.

➣ Anoa pegunungan ( bubalus qualesi )


sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaña. Dalam bahasa latin anoa. pegunungan disebut Bubalus quarlesi. Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 130-160cm dengan tinggi sekitar 80cm. Panjang tanduk anoa
pegunungan sekitar 32cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 170 kg. Anoa pegunungan
berusia antara 25-35 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun.

Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 MDPL.meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang.diperlukan dalam proses metabolismenya.

Anoa pegunungan cenderung lebih aktif padapagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak- semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan.

Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”. Mirip suara sapi, Populasi dan Konservasi Anoa. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah ( Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah. Terlihat lagi.

Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam
Punah). Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak
boleh diperjual belikan.

Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore- Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah). Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa
endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.
Pada tahun 2000, masyarakat Kabupaten Buton dan Konawe Selatan dibantu pihak BKSDA pernah mencoba untuk membuka penangkaran anoa.

Tetapi usaha ini akhirnya gagal lantaran perilaku anoa yang cenderung tertutup dan mudah merasa terganggu oleh kehadiran manusia sehingga dari beberapa spesies yang ditangkarkan tidak satupun yang berhasil dikawinkan.

Tahun 2010 ini, Taman Nasional Lore-Lindu akan mencoba melakukan penangkaran satwa langka
yang dilindungi ini. Semoga niat baik ini dapat terlaksana sehingga anoa dataran rendah ( Bubalus
depressicornis) dan Anoa Pegunungan ( Bubalus
quarlesi ) dapat lestari dan menjadi kebanggan seluruh bangsa Indonesia seperti halnya Panser
Anoa buatan Pindad. ( aminnnnn )

➣ Kera hitam sulawesi (macaca nigra)


Merupakan jenis primata yang mulai langka dan
terancam kepunahan. Kera Hitam Sulawesi yang
dalam bahasa latin disebut Macaca
nigra merupakan satwa endemik Sulawesi Utara.
Kera Hitam Sulawesi selain mempunyai bulu yang
berwarna hitam juga mempunyai ciri yang unik
dengan jambul di atas kepalanya. Kera yang oleh
masyarakat setempat disebut Yaki ini semakin
hari semakin langka dan terancam punah.

Bahkan oleh IUCN Redlist digolongkan dalam
status konservasi Critically Endangered (Krisis).
Kera Hitam Sulawesi sering juga disebut monyet
berjambul. Dan oleh masyarakat setempat biasa
dipanggil dengan Yaki, Bolai, Dihe . Dalam bahasa
Inggris primata langka ini disebut dengan
beberapa nama diantaranya:
Celebes Crested
Macaque, Celebes Black ape, Celebes Black
Macaque, Celebes Crested Macaque, Celebes
Macaque, Crested Black Macaque, Gorontalo
Macaque, Sulawesi Macaque . Dalam bahasa latin
(ilmiah) Kera Hitam Sulawesi dinamai Macaca
nigra yang bersinonim dengan Macaca
lembicus (Miller, 1931) Macaca malayanus (Desmoulins, 1824).

Ciri-ciri Kera Hitam Sulawesi. Kera Hitam Sulawesi ( Macaca nigra ) mempunyai ciri-ciri sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu berwarna hitam kecuali pada daerah punggung dan selangkangan yang berwarna agak terang. Serta daerah seputar pantat yang berwarna kemerahan.

Pada kepala Kera Hitam Sulawesi (Yaki) memiliki jambul. Mukanya tidak berambut dan memiliki
moncong yang agak menonjol. Panjang tubuh Kera Hitam Sulawesi dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya sekitar 11-15 kg. Habitat dan Tingkah Laku. Kera Hitam Sulawesi hidup secara berkelompok Besar kelompoknya terdiri antara 5-10 ekor. Kelompok yang besar biasanya terdiri atas beberapa pejantan dengan banyak betina dewasa dengan perbandingan satu pejantan berbanding 3 ekor betina.

Primata yang menyukai jenis–jenis pohon yang tinggi dan bercabang banyak. Sepertti Beringin (Ficus sp) dan Dao (Dracontomelon dao) ini
merupakan hewan omnivora, mulai dari buah-
buahan hingga serangga. Musuh utama Kera
Hitam Sulawesi ( Macaca nigra ) ini sama seperti
tarsius yaitu ular Phyon.Primata ini banyak
menghabiskan waktu di pohon.

Penyebaran Kera Hitam Sulawesi biasanya
terfokus di hutan primer pada lokasi yang masih
banyak jenis pohon berbuah yang biasa dimakan
oleh satwa ini. Daya jelajahnya (home range)
selalu menuju ke satu arah dan akan kembali
kearah semula dengan daya jelajah antara 0,8–1
km.

Binatang langka ini dapat ditemui di Sulawesi Utara di Taman Wisata Alam Batuputih, Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Cagar Alam Gunung Duasudara, Cagar Alam Gunung Ambang, Gunung Lokon dan Tangale. Juga dibeberapa pulau seperti di pulau Pulau Manadotua and Pulau Talise, Pulau Lembeh (kemungkinan telah punah), termasuk di Pulau Bacan (Maluku). Konservasi. Kera Hitam Sulawesi merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999. Populasi Kera Hitam Sulawesi berdasarkan data tahun 1998
diperkirakan kurang dari 100.000 ekor. Jumlah ini diyakini semakin mengalami penurunan. Penurunan popolasi ini sebagian besar diakibatkan oleh perburuan liar.

Karena jumlah populasinya yang semakin menurun, IUCN Redlist memasukkan Kera Hitam Sulawesi dalam daftar status konservasi Critically.Endangered (kritis) sejak tahun 2008. Dan CITES juga memasukkan satwa endemik ini sebagai Apendix II.
babi rusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tupai sulawesi yang berwarna-
warni yang merupakan faritas binatang berkantung serta burung Maleo yang bertelur pada pasir yang panas.           

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri yang didominasi kayu agatis yang berbeda dengan
Sunda Besar yang didominasi oleh pinangan- pinangan (yang spesiesnya disebut rhododenron).
Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk.melindungi flora dan fauna tersebut telah ditetapkan taman nasional atau suaka alam seperti Taman Nasional Lore, suaka alam Morowali, suaka alam Tanjung Api dan suaka
alam di Bangkirian untuk melindungi burung Maleo. Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di sebelah selatan Donggala dan bagian barat Kabupaten Poso memiliki luas wilayah 131.000 ha. Dengan dikelilingi oleh puncak Nokilalaki yang mencapai ketinggian 2.355 m, Danau Lindu masih dapat dilihat. Di taman ini terdapat pula patung- patung prasejarah yang terdapat di Napu, Beso dan Bada. Variasi flora dan fauna yang dilindungi mencakup babi rusa, Anoa dan Tangkasi.



Baca Juga: Paling Ampuh. 4 Tanaman Hias Dan Tanaman Penyerap Bau


Suaka margasatwa lain juga terdapat di Tanjung Api yang berlokasi di Ampana, 156 km dari Poso. Di sini Anoa dan Babi Rusa ditemukan disepanjang pantai dan juga terdapat gas alam yang menyemburkan lidah api. Morowali sebuah suaka alam di Petasia yang memiliki hutan tropis yang masih asli. Pohon-
pohon agatis tumbuh disini pada dataran rendah dan payau. Morowali dapat dicapai 1½ jam dari Kolonodale dengan motor laut. Anggrek hitam yang terkenal ditemukan di Morowali, Bancea, Kulawi dan tempat-tempat lainnya.


➣ Kura - Kura paruh Betet



Disebut sebagai Kura-Kura Paruh Betet karena paruhnya yang menyerupai dengan burung bebet, Kura -Kura paruh betet ini merupakan salah satu
dari beberapa reptil langka di Indonesia, Bahkan termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles— 2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition. Bentuk mulutnya yang meruncing menyerupai paruh Burung Betet, membuatnya dinamai “Kura-Kura Paruh Betet”.

Satwa ini tidak dapat ditemukan di tempat lain selain di pulau Sulawesi bagian utara. Populasinya kini diperkirakan hanya mencapai 250 ekor, hal ini disebabkan oleh perburuan, penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil, dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Minimnya populasi juga diperparah oleh rendahnya tingkat reproduksi Kura-Kura Paruh Betet ini.

➣ Tarsius

Tarsius merupakan hewan primata yang sangat unik.
Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, bola matanya berdiameter sekitar 16 mm
dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang.

Nama Tarsius diambil karena mereka memiliki tulang tarsal memanjang yang membentuk pergelangan kaki mereka, sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter dari satu pohon ke pohon
lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya.
Tarsius memakan serangga seperti kecoa, jangkrik, reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Mereka hanya bisa ditemukan di hutan-hutan
Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng

➣ Burung maleo

Burung jenis Maleo ini hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupatren Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Burung Maleo memiliki tonjolan besar di atas kepala.

Karena tonjolannya itu, Burung Maleo bisa mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya. Konon, Burung Maleo akan pingsan setelah mengeluarkan telurnya, ini karena ia harus mengeluarkan telur dalam ukuran yang sangat besar, yaitu kira-kira 5 kali lebih besar dari telur ayam kampong.

Keunikan telur Burung Maleo tersebut membuat banyak orang yang memburunya, kini Burung
Maleo terancam punah, jumlahnya diperkirakan
kurang dari 11 ribu ekor.

⟳➣ Babi rusa

Disebut sebagai Babi rusa karena hewan ini memang
mirip sekali Babi, namun ukuran badannya jauh lebih
besar dari babi biasa.

Babirusa juga punya taring panjang yang mencuat ke atas menembus moncongnya. Satwa ini tergolong herbivora, suka sekali menyantap buah-buahan dan
tumbuhan seperti mangga, jamur dan dedaunan. Babirusa memilih mencari makan pada malam hari, agar terhindar dari binatang buas yang sering menyerang.

Sebenarnya babi rusa termasuk hewan yang pemalu, namun akan sangat buas jika ada yang mengganggunya. Babirusa merupakan salah satu hewan langka, ia hanya terdapat di sekitar Pulau Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku, jumlah mereka diperkirakan hanya tinggal 5000 ekor.

itulah beberapa hewan langkah dan sangat dilindungi di sulawesi tengah. Mungkin postingan ini terlalu panjang dan sangat membosankan untuk dibaca, namun sekiranya postingan ini bisa memberikan pengetahuan dan wawasan anda untuk lebih mengetahui hewan-hewan yang sangat dilindungi di nusantara yang tercinta ini. Silahkan berikan kritik dan saran anda di kolom komentar dibawah⏬⏬⍅⏬

➢ Hewan khas dan langka sulawesi tengah

Sulawesi tengah memiliki hutan yang masih terjaga kelestarianya, baik itu Flora maupun Faunanya, ada banyak sekali Fauna yang terdapat di hutan Sulawesi Tengah, baik itu Fauna yang masih banyak ditemukan sampai Faunanya yang sangat sulit untuk dijumpai saat ini, atau bisa dibilang Hewan langka.

Berikut kami akan mengulas lengkap beberapa hewan langka dan khas sulawesi tengah yang wajib anda ketahui.

Pada tahun 2004 Seorang Naturalis Inggris A.R. Wallace mengeluarkan suatu pernyataan yang disebut garis Wallace yang membusur dari Bali dan Lombok menuju ke antara Kalimantan dan Sulawesi, sebelah selatan Philipina dan sebelah utara Hawaii yang menandai perbedaan Flora dan Fauna pada daratan yang terpisah ketika zaman es 47 juta tahun lalu.


Baca Juga:  4 Jenis Tanaman Penyerap Debu Yang Paling Banyak


Jawa, sumatera, Kalimantan, dan Bali yang dikenal sebagai Sunda Besar merupakan bagian paparan Sunda dan faunanya sama dengan fauna daratan Asia. Pulau-pulau di bagian timur Bali yang merupakan bagian daratan Australia merupakan bagian dari paparan Sahul yang meliputi kepulauan Aru, Irian dan Australia.

Sulawesi merupakan pulau terpisah dari kedua dataran tersebut, maka tak heran memiliki Flora dan Faunanya yang berbeda sendiri. Seperti hewan berikut ini:

➣ Anoa dataran rendah(bubalus depressicornis) 


Anoa jenis ini biasa disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip dengan kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira.sebesar kambing dewasa.

Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi Fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara dan sulawesi tengah ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa jenis pegunungan.

Anoa dataran rendah mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan ( Bubalus quarlesi ). Panjang tubuhnya sekitar 170cm dengan tinggi sekitar 90 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya sekitar 50 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg. Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 35 tahun yang matang secara
seksual pada umur 3-4 tahun.




Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 8 - 10bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi
dengan ketinggian 1500 MDPL. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat
satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.

➣ Anoa pegunungan ( bubalus qualesi )


sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaña. Dalam bahasa latin anoa. pegunungan disebut Bubalus quarlesi. Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 130-160cm dengan tinggi sekitar 80cm. Panjang tanduk anoa
pegunungan sekitar 32cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 170 kg. Anoa pegunungan
berusia antara 25-35 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun.

Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 MDPL.meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang.diperlukan dalam proses metabolismenya.

Anoa pegunungan cenderung lebih aktif padapagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak- semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan.

Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”. Mirip suara sapi, Populasi dan Konservasi Anoa. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah ( Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah. Terlihat lagi.

Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam
Punah). Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak
boleh diperjual belikan.

Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore- Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah). Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa
endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.
Pada tahun 2000, masyarakat Kabupaten Buton dan Konawe Selatan dibantu pihak BKSDA pernah mencoba untuk membuka penangkaran anoa.

Tetapi usaha ini akhirnya gagal lantaran perilaku anoa yang cenderung tertutup dan mudah merasa terganggu oleh kehadiran manusia sehingga dari beberapa spesies yang ditangkarkan tidak satupun yang berhasil dikawinkan.

Tahun 2010 ini, Taman Nasional Lore-Lindu akan mencoba melakukan penangkaran satwa langka
yang dilindungi ini. Semoga niat baik ini dapat terlaksana sehingga anoa dataran rendah ( Bubalus
depressicornis) dan Anoa Pegunungan ( Bubalus
quarlesi ) dapat lestari dan menjadi kebanggan seluruh bangsa Indonesia seperti halnya Panser
Anoa buatan Pindad. ( aminnnnn )

➣ Kera hitam sulawesi (macaca nigra)


Merupakan jenis primata yang mulai langka dan
terancam kepunahan. Kera Hitam Sulawesi yang
dalam bahasa latin disebut Macaca
nigra merupakan satwa endemik Sulawesi Utara.
Kera Hitam Sulawesi selain mempunyai bulu yang
berwarna hitam juga mempunyai ciri yang unik
dengan jambul di atas kepalanya. Kera yang oleh
masyarakat setempat disebut Yaki ini semakin
hari semakin langka dan terancam punah.

Bahkan oleh IUCN Redlist digolongkan dalam
status konservasi Critically Endangered (Krisis).
Kera Hitam Sulawesi sering juga disebut monyet
berjambul. Dan oleh masyarakat setempat biasa
dipanggil dengan Yaki, Bolai, Dihe . Dalam bahasa
Inggris primata langka ini disebut dengan
beberapa nama diantaranya:
Celebes Crested
Macaque, Celebes Black ape, Celebes Black
Macaque, Celebes Crested Macaque, Celebes
Macaque, Crested Black Macaque, Gorontalo
Macaque, Sulawesi Macaque . Dalam bahasa latin
(ilmiah) Kera Hitam Sulawesi dinamai Macaca
nigra yang bersinonim dengan Macaca
lembicus (Miller, 1931) Macaca malayanus (Desmoulins, 1824).

Ciri-ciri Kera Hitam Sulawesi. Kera Hitam Sulawesi ( Macaca nigra ) mempunyai ciri-ciri sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu berwarna hitam kecuali pada daerah punggung dan selangkangan yang berwarna agak terang. Serta daerah seputar pantat yang berwarna kemerahan.

Pada kepala Kera Hitam Sulawesi (Yaki) memiliki jambul. Mukanya tidak berambut dan memiliki
moncong yang agak menonjol. Panjang tubuh Kera Hitam Sulawesi dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya sekitar 11-15 kg. Habitat dan Tingkah Laku. Kera Hitam Sulawesi hidup secara berkelompok Besar kelompoknya terdiri antara 5-10 ekor. Kelompok yang besar biasanya terdiri atas beberapa pejantan dengan banyak betina dewasa dengan perbandingan satu pejantan berbanding 3 ekor betina.

Primata yang menyukai jenis–jenis pohon yang tinggi dan bercabang banyak. Sepertti Beringin (Ficus sp) dan Dao (Dracontomelon dao) ini
merupakan hewan omnivora, mulai dari buah-
buahan hingga serangga. Musuh utama Kera
Hitam Sulawesi ( Macaca nigra ) ini sama seperti
tarsius yaitu ular Phyon.Primata ini banyak
menghabiskan waktu di pohon.

Penyebaran Kera Hitam Sulawesi biasanya
terfokus di hutan primer pada lokasi yang masih
banyak jenis pohon berbuah yang biasa dimakan
oleh satwa ini. Daya jelajahnya (home range)
selalu menuju ke satu arah dan akan kembali
kearah semula dengan daya jelajah antara 0,8–1
km.

Binatang langka ini dapat ditemui di Sulawesi Utara di Taman Wisata Alam Batuputih, Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Cagar Alam Gunung Duasudara, Cagar Alam Gunung Ambang, Gunung Lokon dan Tangale. Juga dibeberapa pulau seperti di pulau Pulau Manadotua and Pulau Talise, Pulau Lembeh (kemungkinan telah punah), termasuk di Pulau Bacan (Maluku). Konservasi. Kera Hitam Sulawesi merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999. Populasi Kera Hitam Sulawesi berdasarkan data tahun 1998
diperkirakan kurang dari 100.000 ekor. Jumlah ini diyakini semakin mengalami penurunan. Penurunan popolasi ini sebagian besar diakibatkan oleh perburuan liar.

Karena jumlah populasinya yang semakin menurun, IUCN Redlist memasukkan Kera Hitam Sulawesi dalam daftar status konservasi Critically.Endangered (kritis) sejak tahun 2008. Dan CITES juga memasukkan satwa endemik ini sebagai Apendix II.
babi rusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tupai sulawesi yang berwarna-
warni yang merupakan faritas binatang berkantung serta burung Maleo yang bertelur pada pasir yang panas.           

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri yang didominasi kayu agatis yang berbeda dengan
Sunda Besar yang didominasi oleh pinangan- pinangan (yang spesiesnya disebut rhododenron).
Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk.melindungi flora dan fauna tersebut telah ditetapkan taman nasional atau suaka alam seperti Taman Nasional Lore, suaka alam Morowali, suaka alam Tanjung Api dan suaka
alam di Bangkirian untuk melindungi burung Maleo. Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di sebelah selatan Donggala dan bagian barat Kabupaten Poso memiliki luas wilayah 131.000 ha. Dengan dikelilingi oleh puncak Nokilalaki yang mencapai ketinggian 2.355 m, Danau Lindu masih dapat dilihat. Di taman ini terdapat pula patung- patung prasejarah yang terdapat di Napu, Beso dan Bada. Variasi flora dan fauna yang dilindungi mencakup babi rusa, Anoa dan Tangkasi.



Baca Juga: Paling Ampuh. 4 Tanaman Hias Dan Tanaman Penyerap Bau


Suaka margasatwa lain juga terdapat di Tanjung Api yang berlokasi di Ampana, 156 km dari Poso. Di sini Anoa dan Babi Rusa ditemukan disepanjang pantai dan juga terdapat gas alam yang menyemburkan lidah api. Morowali sebuah suaka alam di Petasia yang memiliki hutan tropis yang masih asli. Pohon-
pohon agatis tumbuh disini pada dataran rendah dan payau. Morowali dapat dicapai 1½ jam dari Kolonodale dengan motor laut. Anggrek hitam yang terkenal ditemukan di Morowali, Bancea, Kulawi dan tempat-tempat lainnya.


➣ Kura - Kura paruh Betet



Disebut sebagai Kura-Kura Paruh Betet karena paruhnya yang menyerupai dengan burung bebet, Kura -Kura paruh betet ini merupakan salah satu
dari beberapa reptil langka di Indonesia, Bahkan termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles— 2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition. Bentuk mulutnya yang meruncing menyerupai paruh Burung Betet, membuatnya dinamai “Kura-Kura Paruh Betet”.

Satwa ini tidak dapat ditemukan di tempat lain selain di pulau Sulawesi bagian utara. Populasinya kini diperkirakan hanya mencapai 250 ekor, hal ini disebabkan oleh perburuan, penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil, dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Minimnya populasi juga diperparah oleh rendahnya tingkat reproduksi Kura-Kura Paruh Betet ini.

➣ Tarsius

Tarsius merupakan hewan primata yang sangat unik.
Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, bola matanya berdiameter sekitar 16 mm
dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang.

Nama Tarsius diambil karena mereka memiliki tulang tarsal memanjang yang membentuk pergelangan kaki mereka, sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter dari satu pohon ke pohon
lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya.
Tarsius memakan serangga seperti kecoa, jangkrik, reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Mereka hanya bisa ditemukan di hutan-hutan
Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng

➣ Burung maleo

Burung jenis Maleo ini hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupatren Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Burung Maleo memiliki tonjolan besar di atas kepala.

Karena tonjolannya itu, Burung Maleo bisa mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya. Konon, Burung Maleo akan pingsan setelah mengeluarkan telurnya, ini karena ia harus mengeluarkan telur dalam ukuran yang sangat besar, yaitu kira-kira 5 kali lebih besar dari telur ayam kampong.

Keunikan telur Burung Maleo tersebut membuat banyak orang yang memburunya, kini Burung
Maleo terancam punah, jumlahnya diperkirakan
kurang dari 11 ribu ekor.

⟳➣ Babi rusa

Disebut sebagai Babi rusa karena hewan ini memang
mirip sekali Babi, namun ukuran badannya jauh lebih
besar dari babi biasa.

Babirusa juga punya taring panjang yang mencuat ke atas menembus moncongnya. Satwa ini tergolong herbivora, suka sekali menyantap buah-buahan dan
tumbuhan seperti mangga, jamur dan dedaunan. Babirusa memilih mencari makan pada malam hari, agar terhindar dari binatang buas yang sering menyerang.

Sebenarnya babi rusa termasuk hewan yang pemalu, namun akan sangat buas jika ada yang mengganggunya. Babirusa merupakan salah satu hewan langka, ia hanya terdapat di sekitar Pulau Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku, jumlah mereka diperkirakan hanya tinggal 5000 ekor.

itulah beberapa hewan langkah dan sangat dilindungi di sulawesi tengah. Mungkin postingan ini terlalu panjang dan sangat membosankan untuk dibaca, namun sekiranya postingan ini bisa memberikan pengetahuan dan wawasan anda untuk lebih mengetahui hewan-hewan yang sangat dilindungi di nusantara yang tercinta ini. Silahkan berikan kritik dan saran anda di kolom komentar dibawah⏬⏬⍅⏬

Postingan terkait:

"Hewan Langka Asli Indonesia ini Pasti Belum Pernah Kamu Lihat Secara Langsung"

Post a Comment